19 Juli 2015

Lebaran Telah Usai

Lebaran Telah Usai

sudah tiga hari Ramadhan pergi
sudah berbilang  hari adatku kembali
silih berganti merasuk sanubari
memuas luaskan birahi

sudah tiga hari ragaku kembali fitrah
suci menurut nafsu serakah
baik berdasarkan  selera rendah
marah sumpah serapah
susah payah
tak bisa ditengah
senantiasa menggagah
hingga bulan puasa belah
hilang entah berantah

sudah tiga hari Ramadhan pulang
tamu yang sangat penyayang
sayang tidak berbilang
lapar dahagaku menjadi kenyang
melihat syurga yang terhidang

di hari ketiga saat aku berdiri
menatap hilalmu yang merekah
ternyata engkau berubah
menjadi Syawal
menantang
membentang
deretan peluang amar ma'ruf nahi munkar
aku terkesima dalam keraguan
antara melepas dan memeluk
bidadari yang pernah singgah
kasih, ku kira engkau akan kembali
pada raga ku yang mungkin telah rapuh


( puisi di hari 3, 19 Juli 2015, 3 Syawal 1437 H)










08 Oktober 2011

puisi cinta

meramu dirimu bagai bumbu dimasak takut tak lezat tapi dari bola matamu kulihat aneka warna yang terkuas indah cukuplah hidangan ini menikmati subuh bersama menu yang itu itu saja tapi dirimu tak pernah habis menjamuku Tanjung, 11/10/2011

11 September 2011

Arah

Kiblatku telah kau luruskan seperti shiratal mustaqim yang selalu kupanjatkan dalam diri seringkih bungkuk kemudian ambruk dalam sejud menjadi tanah. Aku yang selalu menujumu selalu saja berhenti di persimpangan kecuali garis membujur bersegi empat ditoreh menjebakku dalam tanah kaku menghimpit. Tanjung, 10/09/2011

13 September 2009

BELAJAR MENJADI PENCINTA SEJATI

Belajar Menjadi Pencinta Sejati

Wujud-Nya membias pada segala yang tercipta. Tidak terkecuali pada ego yang merasa sepi. Siapakah ‘aku’ yang merasa ada? Keakuan yang mempertanyakan tuhan tapi tidak sungguh sungguh mencarinya? Ego yang terbiasa tersesat, tapi tetap angkuh. Angkuh bukan karena tidak berilmu, tapi lebih karena ingin menjadi tuhan. Tuhan telah dicipta oleh manusia dalam bentuk beraneka macam. Lalu ada apa dengan Tuhan?

Jika tuhan yang dimaksud adalah Allah, maka Dia seperti dalam keyakinan orang Islam; adalah Tuhan Pemilik Hidup ini. Dia mulia dengan sendirinya karena berbagai sifat keagungan. Maka manusia muslim harus terus memahminya seraya berupaya keras mencintai-Nya secara benar.

Pada shalat, akan ditemukan kepuasaan pengabdiaan muslim yang berakhir pada salam. Maknanya, sampaikan keselamatan kepada orang lain, buah ketidakberdayaan aku yang tertunduk membesarkan Allah. Lantas bagaimana dengan puasa yang tengah kita jalankan? Adakah dia menjadi jalan serupa?

Puasa adalah media belajar mencintai Allah. Kesudahannya adalah status fitrah. Seperti sekolah, anak akan dinyatakan lulus bila usai waktu belajar. Standar kelulusan adalah nilai angka rata rata baik. Begitu pula puasa, akan meluluskan para shaimun dengan syarat nilai minimal di atas ‘tidak sekedar menahan lapar dan haus’.

Berpuasa tidak sekedar menahan lapar dan haus adalah puasa orang dewasa. Puasa yang dapatnya hanya lapar dan haus adalah puasa anak kecil. Tapi inipun baik untuk pendidikan si anak, karena dia sudah belajar memahami nasib orang miskin. Anak selanjutnya akan terdidik biasa dengan kondisi kekurangan bila taqdirnya memang harus dijalani dalam kemiskinan.

Puasa orang dewasa adalah puasa yang membuat dirinya bertambah dekat dengan Allah. Mengapa? Karena saat puasa dia sudah memahami laparnya itu adalah bagian dari mencintai Allah.,meski bagi tubuhnya adalah ‘siksa’. Makanan yang halal tidak disantap, apalagi yang haram. Air segar lagi halal tidak diminum hanya karena ingin memperlihatkan dirinya tahan terhadap godaan. Sekali lagi hanya ingin dinilai oleh Allah; bahwa dirinya taat kepada-Nya.

Kondisi inilah yang akhirnya membiasakan seseorang menata cinta. Tiap detik, tiap menit, tiap jam, tiap hari, waktunya hanya mencintai Allah. Dia berusaha agar cintanya tidak tergores dengan keakuan. Sebab keakuan itu adalah perusak.@ Ahmad Surkati Ar/Tanjung/29/08/2009

KHUTBAH IDUL FITRI 1430 H

اَللهُ اَكْبَرُ ( سمبيلن كلي ) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ اَلْحَمْدُ. اَللهُ اَكْبَرُ كَِبيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ اَصِيْلاً . لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ
الْكَا فِرُوْنَ. اَلْحَمْدُ اللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَنُعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيْأَتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَا دِيَ اللهُ. اَشْهَدُ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمْدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي مُحَمْدٍ وَ عَلَي اَلِهِ وَ صَحِْبهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمّاَ بَعْدُ : فَيَا عِبَا دَ اللهِ, اُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ.
Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah!
Allah Maha Besar, kebesaranNya tak berukur karena dia Sang Penguasa Tungal. Dia yang berhak untuk di puja dan dipuji sebab Allah pemilik pujian. Dari Dia bersumber segala yang dipuja, kepadaNya pula berpulang segala yang dipuji. Al hamdulillah, karena karunia Rabbul ‘alamin, kita hari ini menyaksikan betapa Allah telah menebar rahmat di segala titik wujud segala benda, hingga pagi ini yang menjadi pembatas antara Ramadhan dan Syawal. Satu hari dari sekian panjang kelipatan waktu yang membuat kita tersudut oleh kesadaran “Allah telah bermurah dengan Rahman dan Rahim memanjangkan usia kita sehingga tuntas puasa sebulan penuh, sampai pula diri ini berlebaran, ber-Idul Fitri.” Terimakasih Duhai Sang Pengasih!
Gema takbir, tasbih, tahmid, serta tahlil adalah untaian permata senja, yang mengalun, membahana, menelesup di relung hati. Menyapa kaum beriman, seperti membisikkan hikmah dari Allah “Saatnya berbuka dari panjang waktu beribadah kepada Pengantur Hidup. Reguk nikmat dari Sang pemberi yang telah membebaskan para Muttaqin dari jerat Syaitan, dari kungkungan Neraka. Bergembiralah dengan fitrah raga jiwa yang kini menapak jalan menuju pintu syurga. Hari ini adalah hari kemenangan, hari kebahagian umat Nabi Muhammad SAW. Bergembiralah seraya bershalawat kepada Rasul Kekasih Allah, berirama dengan tasbih para Malaikat, bersuka cita sealam raya, bersyukur seperti syukurnya embun yang sejuk, kicau burung merdu terdengar, dan mekarnya bunga bersama harum mewangi. Sejuta tasbih dari rangkain alam semesta itu tidak pernah surut, selalu saja bergemuruh. Kita pun luruh, tersungkur, mensyukuri nikmat takwa yang baru kita raih dari Allah. Hanya dengan bertaqwa kepadaNya kita terjamin untuk menikmati kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Allahu Akbar, Allah Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Jama’ah Shalat Sunnat Yang Dibanggakan Allah!
Hari ini, kita yang bersimpuh di tempat ini, insya Allah seperti bayi yang baru lahir; tidak ada noda, menyenangkan dilihat, begitulah gambaran kesucian Para Shaimuun. Para pencinta Ramadhan, selain adalah kelompok manusia yang berikhtiar menjadi penyabar, ikhlas dalam ibadah, sekaligus manusia abad sekarang yang berempati terhadap masalah social. Penyayang terhadap sesama, sekaligus pendekar kemanusian. Puasa menghantarkan kaum muslimin menjadi Manusia yang bermental suci. Selama berpuasa, terbentuklah akhlakul karimah. Jiwa kita diliputi ketenangan. Saat ini, kita yang merayakan kemenangan ini adalah hamba hamba yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Hidup selanjutnya selalu saja bernuansakan ibadah dan mengharap ridhanya. Sucinya jiwa kita hari hendaklah terjaga sampai raga berpisah dengan ruh. Kematian yang berselimut dengan citra Hunsul Khatimah. Hari ini adalah hari yang seharusnya sama ketika kita menghadapnNya. Firman Allah; QS, Al fajr : 27-30.

يَأَيَّّتُهَا النّفْسُ اْلمُطْمَئِنَّةُ ِارْجِعِيْ اِلَي َرّبِكِ رَاِضيَةً مَرِْضيََّةً فَادْخُلِيْ ِفيْ عِبَادِيْ َوادْ خُِليْ جَنَِّتيْ

Wahai jiwa jiwa yang tenang! Kembalillah kepada Tuhanmu dengan penuh ketentraman dan keridhaan. Kembalilah ke dalam jamaah hamba hambaku, untuk bersama di dalam surgaku.
Yah. Puasa sesungguhnya menuntut kita akrab dengan tradisinya. Meski dia hilang, berputar, namun ajarannya tetap selalu terjaga. Bukankah dia kita cinta, sampai Rasul mengisyaratkan jikalau manusia mengetahui kandungan puasa, maka mereka akan berpuasa setahun penuh. Tidakkah di celah celah air mata yang berderai jatuh ke pipi, terselip doa “ Duhai Yang Maha kekal, Al Baaqii, tautkan umurku dengan Ramadhan berikutnya. Dengannya aku bersimpuh sujud kepadaMU, memulikanMu di malam seribu bulan.”
Kita berharap ada umur lagi, karena Ramadhan memberi kesempatan kepada kita memperbaiki kualitas usia. Bukankah dengan menghkatamkan Al Qur’an, maka atas dasar Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan, kita berhak mendapat jaminan, umur bertambah sekitar 80 tahun dalam ibadah, khususnya membaca Al Qur’an. Malam itu kita bertahajud, maka tahajud kita adalah shalat sunat yang panjang, sekitar 80 tahun. QS. Al Qadr, ayat 3.
َليْلَة ُاْلقَدِْر خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan
Sidang Idul Fitri Yang Dimuliakan Allah.
Allahu Akbar, Allah Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Hari terakhir Ramadhan telah selesai. Hari ini kita bergembira, besok dan hari selanjutnya kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita. Suasana bahagiakah yang kita nikmati, atau justru berbagai rupa kesedihan yang akan mendera kita. Namun yang sudah pasti, kita tidak akan lagi menyaksikan di sebelas bulan ke depan umat Islam sedunia bersatu saat memulai puasa dengan makan sahur, berbuka puasa kala azan magrib dikumandangkan. Kita tidak akan menemukan suasana orang berduyun duyun mendatangi mushalla, masjid untuk shalat isya dan tarawih. Mata kita tidak akrab lagi dengan pemandangan orang orang yang rajin beriktikaf di masjid, Membaca Al Qur’an. Telinga kita pun nantinya jarang mendengar ceramah agama yang ditayangkan televise, disiarkan radio. Kecuali kita berumur panjang kemudian bertemu lagi Ramadhan selanjutnya, maka suasana penuh kebaikan itu akan kita nikmati lagi.
Pertanyaan yang harus kita jawab, realita sehari hari, bagaimana dengan ibadah kita? Apakah Ramadhan yang berulang kali kita temui selama hidup ini telah mendidik kita menjadi ahli ibadah? Adakah kita pelaku tahajud yang tercatat telah 10 tahun menjaga tahajut tanpa absent. Apakah selama ini umur kita habiskan untuk membaca Al Qur’an? Adakah diantara sujud dan zikir kita kepada Allah dilalui dengan rindu dan cinta, sehingga air mata berlinangan, tak mampu menyimpan rasa lemah, dhaif di hadapan Allah, Al Qahar, Al Jabar.
Kaum Muslimin wal Muslimat, yang Dirakmati Allah
Menangis adalah ungkapan paling jujur tentang suara batin manusia, yang melambangkan kepasrahan total seorang hamba pada Rabbnya. Menangis juga ungkapan dari perasaan yang benar benar khusuk, yang mudah tersentuh oleh kebenaran halus dan agung yang menyelinap ke dalam kalbu. Mari kita simak baik baik sepenggal cerita dari sahabat Ibnu Mas’ud yang menceritakan Rasulullah, teladan kita semua juga tidak jarang menangis. Suatu saat Rasulullah SAW berkata kepadanya
“Bacakan padaku Al Qur’an!”
“Bagaimana mungkin kubacakan Al Qur’an untukmu, bukankah ia turun kepadamu?”
“Benar, namun aku ingin sekali mendengarnya dari selainku. “ Jawab Rasulullah. Lantas Ibnu Mas’ud membaca surah An Nisa, hingga ayat 41,

َفكَيْقَ ِإذَا ِجئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ ِبَشهِيْدٍ وَ ِجئْنَا ِبكَ هَؤُلَاءِ َشِهْيدًا, قَالَ حَسْبُكَ اَلْانَ فَاْلتَفَتُّ ِاَليْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذِْرفَاِن

Mendengar ayat tadi, Rasulullah pun bersabda “Cukup, cukup sampai di sini….” Dan sekonyong konyong air bening berleleran dari kedua kelopak mata beliau. Rasul menangis ( H.R. Bukhari)
Kaum Muslimin, adakah diantara kita yang menjalani puasa sebulan tadi bangun di tengah malam lalu bertahajud, dan membaca Al Qur’an. Melalui suara yang pelan, dan istigfar yang ikhlas, air mata kemudian berleleran membasahi pipi dan jatuh perlahan di sajadahnya. Beruntunglah mereka yang pernah mempersembahkan air matanya untuk Allah, karena itu bukti dirinya yang ikhlas menyembah Allah dan Allah akan membalasnya dengan memberi naungan pada hari kiamat.

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, belia bersabda, “ Ada tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naunganNya yaitu; pemimpin yang adil, remaja yang senantiasa beibadah kepada Allah Ta’ala, seorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah di mana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki laki yang ketika di rayu oleh seorang wanita bangsawan dan rupawan lalu menjawab “Sungguh aku takut kepada Allah”, seorang yang mengeluarkan sedekah lantas disembunyikannya sampai sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya mencucurkan air mata ( H.R. Bukhari dan Muslim )
َورَجَلٌ ذَكَرَ اللهَ خَاِليا فَافَضَتْ عَيْنَاهُ
Atau jangan jangan kita tidak pernah menangis untuk Allah selama ini, kalau toh ada air mata yang tumpah itu bukan karena Allah, tatapi karena dunia yang terampas dari kita, musibah yang mendera, orang yang kita cintai pergi, meninggal dunia, harta ludes karena ditipu, rumah yang kebakaran. Kita menangisi itu semua, kita bersedih karena sesuatu yang tidak bernilai abadi. Kita tidak pernah menangisi diri yang banyak dosa, kita tidak bersedih karena anak kita bukan menjadi anak yang saleh salehah, kita jarang menyesali sikap kita yang selama ini tidak memperdulikan orangtua. Orang tua yang kini uzur itu kita biarkan dalam kesendirian mereka. Mereka yang tadinya membesarkan kita, kini pasrah dalam ketuan mereka. Jika mereka sudah tiada di dunia, kita pun menganggap biasa biasa saja. Adakah doa yang rutin kita panjatkan kepada Allah agar merahmati mereka yang terkubur saat ini. Termasukkah kita orang yang rajin menziarahi kuburan mereka. Begitu juga apakah kita orang yang menjadikan pelajaran setiap ada teman se kantor, teman sepermain yang lebih dulu menghadap Allah . Kita mungkin sebaliknya masih tertawa tawa, senang membangun kebahagian semu di dunia, tidak perduli dengan sikap itu ada orang, tetangga kita yang kemudian menderita. Kita sibuk memperkaya diri, kita mengira di dunia ini kehidupan itu. Tidak pernah yakin jika ada kehidupan lain yang menjelang bahkan lebih abadi. Kita tidak pernah mempersiapkan bekal di alam barzah, penantian yang teramat panjang. Ingatlah sebuah hadist Rasul

عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : خَطَبَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَمَ خُطْبَةً مَا سَمِعْتُ قَطّ,ُ فَقَالَ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلًا َولَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا فَغَّطَي أَصْحَابُ َرسُوِْلِ اللهِ عَلَيْهِ وَ َسلَمَ وُجُوْهُهُمْ لَهُمْ خَنِيْنٌ
Dari Anas R.A., ia berkata : “Rasulullah SAW pernah berkhutbah yang luar biasa di mana saya belum pernah mendengar khutbah yang seperti itu, di mana beliau bersabda, “Seandainya kamu sekalian mengetahui apa yang kuketahui niscaya kamu sekalian akan sedikit tertawa dan pasti akan banyak menangis.” Anas berkata lagi, “Maka para sahabat Rasulullah SAW, menutup mukanya, sambil terisak isak karena menangis. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Allahu Akbar, Allah Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Atau jangan jangan kita termasuk orang yang meninggalkan shalat, bahkan shalat yang diwajibkan. Kita tidak meyakini sepenuhnya amanah kewajiban shalat yang dibebankan. Kita penggangap sepele hadist Rasul yang mengatakan shalat adalah amal pertama yang dihisap, jika diperiksa ternyata shalat beres maka dinilai baiklah seluruh ibadah lainnya, tapi jika shalatnya ditemukan tidak sempurna, maka diangap ibadah lainnya tidak jauh berbeda. Mungkinkah kita selama ini menjadi hamba yang tidak pandai bersyukur. Bersedekah, tapi kita minta dipuji, menuntut ilmu untuk dikatakan terpelajar. Mencari kekayaan dunia, takut kelaparan, sehingga membutakan mata jika dalam harta yang berlimpah itu ada hak fakir miskin. Atau kita yang takut dengan kemiskinan lalu memperkosa hak orang lain, kita maling, kita korupsi, kita zhalim. Mengangap harta sehala galanya. Hartalah ukuran segala sesuatu, mencari menantu yang kaya, anak dimanja dengan pemenuhi segala keinginannya, mengangap hina orang miskin. Tidak lagi mampu membedakan antara halal dan haram, baik buruk, surga neraka. Orang ini diperbudak harta dan kekayaan. Allah berfirman :
يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَا اَوْلَادُكُمْ عَنْ ِذكْرِ اللهِ وَ مَنْ يَّفْعَلْ ذَاِلكَ فَاُوْلَئِكَ هُمُ اْلخَاِسُرْونَ
Hai orang orang yang beriman, janganlah harta hartamu, dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang orang yang rugi ( Al Munafiqun ; ayat 9 )
Supaya kita tidak ditipu oleh harta yang selama ini kita cari, maka Ramadhan mengajari kita untuk berbagi dan merasakan beratnya penderitaan saudara kita yang karena nasib mereka distatuskan fakir miskin. Puasa menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap sesama umat manusia. Orang kaya yang hari harinya terbiasa makan dan minum dengan menu yang lezat, anak, di bulan Ramadhan dilatih untuk merasakan lapar dan dahaga agar ia mengerti daan peduli dengan kemiskinan. Lalu terpanggillah nuraninya menyantuni sekaligus memberi makan orang orang fakir miskin. Dia keluarkan zakatnya, diberikan sedekah. Dia menginfakkah hartanya di jalan Allah. Dan puasa belum dinilai sempurna jika belum dilengkapi dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Hadist Rasulullah ; Rasulullah mewajibakn zakat fitrah sebagai pembersih bagi yang berpuasa dari hal hal yang tidak bermanfaat dan kata kata keji (yang dikerjakan waktu puasa) dan bantuan makanan untu fakir miskin ( Hadist Hasan, riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)





Lalu jika sudah demikian, mengapa kita menjadi orang yang menyia nyia kan Ramadhan tadi. Kita bahkan berharap puasa cepat berakhir, sebab dia menyiksa perut kita, membuat dahaga tenggorokkan. Bahkan ada diantara kita yang tidak puasa karena enggan melaksanakan perintah Allah. Na’uzubillah min zalik! Bagaimana kalau akhirnya Allah kemudian mencabut nyawa kita sementara kita tidak berbekal. “Duhai Allah, Engkau maha Pengampun, Engkau pula yang mengtaqdirkan sesuatu. Ampuni kami wahai Al Gafur. Beri kesempatan kami untuk beribadah.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah!
Hidup ini untuk pengabdian. Beribadah. Allah adalah Tuhan yang karus kita sembah, tapa sedikitpun mensyarikatkanNya. Ini adalah harga mati untuk seorang mu’min. Firman Allah dalam Al Qur’an surat Az Zumar, ayat 11 dan Adz Dzaariyaat, ayat, 56.

ُقلْ اِنِّيْ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ
Katakan olehmu, bahwasanya aku diperintahkan menyembah Allah seraya mengikhlaskan taat kepadNya
َومَا خَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلِاْنسَ إِلَّا ِلَيعْبُدُوْنَ
Dan aku tidak menciptkan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku

Karena dari sana akan tercipta penghambaan total kepada Sang Pencipta. Mu’min yang mampu seperti ini, adalah hamba yang ikhlas dalam ibadah. Maka dalam pelaksanaannya dia terbebas dari segala belenggu kepentingan. Orang yang ikhlas dalam beribadah adalah manusia yang sekaligus berkarakter penyabar. Ternyata yang terjadi adalah puasa juga mendidik kita menjadi orang yang ikhlas dan penyabar. Karena itu puasa memiliki nilai tersendiri di sisiNya. Seperti yang disabdakan rasul melalui hadits Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah
Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, bau mulut seseorang yang sedang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada harumnya misk. Allah telah berfirman mengenai orang yang berpuasa “Ia meninggalkan syahwatnya, makannya dan minumannya demi aku. Maka puasa adalah milikku, dan aku sendiri yang akan memberinya pahala.”
فَاالصَّوْمُ ِليْ وَاَنَا اَجْزِيْ بِهِ
Wajar, bila akhirnya orang yang berpuasa akan mendapatkan pintu surga yang bernama Arrayyan, sebagaimana yang dijanjikan Rasul. Karena dia ikhlas dan sabar membiarkan mulutnya berbau tidak sedap, lapar dan dahaga. Istrinya dan suaminya tidak saling sentuh dengan nafsu, meski halal. Begitupula makanan dan minuman akan disantapnya penuh syukur saat tiba waktunya berbuka.
Keadaan inilah yang mesti menjadi kesan pribadi mereka yang berpuasa. Dia bawa dalam 11 bulan kemudian. Maka insya Allah, kebahagian hari ini, fitrahnya tidak akan dirusak oleh Syaitan sebab dia mendapatkan hikmah dari Tuhannya, bahwa selama berpuasa Syaitan dan Iblis terikat/terpenjara. Dia berpuasa setahunan, artinya selama itu pula dia mampu membentengi dirinya dari godaan musuh manusia itu. Dia mampu menghindari neraka, pintunya seakan tertutup selamanya, karena nafsunya dapat dikendalikan. Hidupnya optimis, penuh semangat karena visinya adalah penghuni syurga yang bertaburan dengan kenikmatan. Maka dia akan menjadi pelaku amal shaleh selamanya, hingga tutup usia dalam husnul khatimah. Semoga!

بَارَكَ اللهُ ِليْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْانِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ ِانَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. اَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ ِليْ وَلَكُمْ وَ لِسَاِئِر اْلمُسْلِمِيْنَ اْلمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فِاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ وَقُلْ رَبِّ إغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Berzikir Habis Habisan

Judul tulisan di atas kurang lebih sama mengingat Allah hingga ke tulang sumsum. Atau bisa juga memakai kata tuntas…tas…tas…tas (bukan tempat sesuatu yang disebut tas. Maksudnya pesan yang ditangkap sampai tetes terakhir). Mengapa kita perlu berzikir sehebat itu? Karena bila diukur dengan sesuatu yang dibutuhkan, tentu belum sebanding dengan cara Allah memperhatikan kita. Lho, kok bisa? Ketahuilah kerja kehidupan ini bukan tidak memakai energi, justru sedetik lengah, maka BENCANA!

Lihat burung yang mengangkasa! Tidakkah ia membutuhkan udara. Udara yang nyaman tentunya. Belum lagi bila diperlihatkan betapa burung sangat membutuhkan obyek makanan yang dihajatkan. Ia akan pergi sesuai insting yang dikuatkan oleh Allah. Sungguh tidak ada makhluk Allah yang mati kelaparan. Kalau toh ada kelaparan, bukan karena Allah tidak mampu menyediakan bahan makanan, namun dipastikan ada penyimpangan manusia yang memotong rantai kehidupan burung tersebut.

Di pagi buta, ketika kehidupan diurai dari selimut malam, burung burung mengepakan sayapnya sebagai tasbih. Ketika pergi mencari tebaran manfaat Allah, burung pasrah total. Ketika pulang, dia akan membesarkan anaknya. Subhanllah! Perhatikan bagaimana burung membuat sarang agar terhindar panas dan dingin. Padahal mereka tidak berpikir, namun Allah mencukupkan kemampuan beradaptasinya Burung hidup dalam rangka memberikan manfaat bagi kehidupan ini, hingga kicaunya menakjubkan manusia, hingga cantiknya menawan hati pemuja, sampai melupakan hakikat burung lalu memenjarakan mereka demi kesenangan.

Zikir yang paling afdhal adalah zikir tauhid; tidak ada tuhan kecuali Allah. Zikir ini sebenarnya dahsyat! Karena meniadakan yang lain memutlakkan Allah. Bunyinya pun menghentak hentak, bergemuruh dan menghujam ke dada. Hati terasa teriris iris sebelum damai yang berubah nikmat. Zikir untuk hati, selanjutnya dialirkan ke tubuh sampai tulang sumsum. Tulang belulang bergerak karena hati. Hati yang dipenuh mengingat Allah, maka dengan sendirinya mengikat anggota tubuh berirama dengan tasbih tasbih yang menggema di jagat raya.

Tempaan zikir seperti ini membuat seseorang merasa tidak memiliki apa apa. Hidupnya seratus persen berhajat kepada Allah. Karenanya dia tidak pernah berhenti berzikir. Keyakinannya bila berhenti zikir walau sesaat, maka dia akan menuhankan sesuatu yang bukan tuhan. Maka apa yang terjadi, dia akan melakukan apa saja asal bernilai baik di sisi Pemilik Hidup. Seperti Rasul Muhamamd yang sudah membuktikan kedahsyatan zikir dalam segala ruang hidup dan tarik nafasnya. Bagaimana dengan kita?@ Ahmad Surkati AR/Tanjung/31/08/2009/

03 Januari 2009

Buat Saudaraku Yang Menyaksikan Palestina

Bila kita diminta menilai, seberapa mengerikan penghancuran kemanusian di Palestina saat ini? Maka Jawabannya adalah seberapa baik mata dan hati ini berfungsi. Untuk mengukurnya kita harus megembalikan seberapa banyak takaran Iman yang kita miliki. Duhai Allah, Engkaulah pemilik hidup ini! Sesunguhnya Engkau hanya menilai manusia sesuai kader ketakwaannya. Bila manusia itu bertakwa, maka dia akan menilai apa yang dialami umat muslim di Gaza adalah saudaranya yang harus ditolong. Iman di dada akan menghentak hentak lalu menggerakkan badan dan pikirannya untuk segera menolong saudaranya. Sebab hatinya langsung teriris dengan melihat penderitaan saudaranya. Jika mereka yang tidak beriman, maka yang muncul adalah keegoan yang bercampur kesombongan dan kekhawatiran. Mereka yang kiblat hatinya bukan kepada Allah tentu akan membela apa yang menjadi kiblatnya. Bila dia mencintai harta dan kekuasaan, maka dia akan mati matian membela apa yang menjadi tuannya. Manusia sering tertipu dengan permainan dunia. Dikira hidup di dunia ini abadi, lalu mereka menyikapinya dengan kebodohan. Saudara kita yang mati syahid itulah yang sesungguhnya benar. Mereka akan menikmati hidup dalam keadaan bahagia kelak. Sementara yang tertipu dengan permainan ini akan sengsara selamanya. Aduh, betapa buta mereka yang membela pemebunuhan saudaranya sendiri. Nau'uzubillah min zalik.

01 Januari 2009

Puisi Ahmad Surkati AR
Tahun Baru

Diperaslah waktu
Buktinya kita yang lupa jika detiknya berputar
Merangkai menit, jam, hari, bulan, dan tahun
Agar berjatuhan tanggal peristiwa

Diperaslah otak kita
Buktinya kita yang susah payah mengingat masa lampau
Merangkai sejarah beradaban
Para pahlawan yang berguguran menjadi kusuma

Diperaslah keringat kita
Tidak ada bukti kita bekerja memintal hari
Yang terjadi hanya obrolan tahun baru
Bersama pendekar tukang ramal


Tanjung, 09 Januari 2008


Waktu Berputar

Jarak waktu ditarik ke masa lalu
Adalah hal lucu yang menggemaskan
Mengingat kejadian itu pernah terjadi
Semisal bayi montok dirimu kala itu

Jarak waktu dibawa ke masa datang
Adalah hal aneh yang membingungkan
Mengingat kejadian itu belum pernah terjadi
Seperti orang tua berambut ubanan gigi ompong tertawa ngakak

Ketika tidak berjarak sekarang ini
Adalah peristiwa bertumpang tindih
Kesengsaraan, musibah, kemiskinan berwarna warni
Mengingat kebahagian itu belum tergapai
Contoh manusia kebingunan menjalani hidup

Tatkala tidak berwaktu
Maka dunia hilang dari edar
Mengingat saat itu jam kita pun hancur



Tanjung, 09 Januari 2008

Menatap Hujan

Siapa menghentikan mereka
Yang diam dalam wajah tidak dikenal
Menatap dengan hati gundah
Di batas teduh hujan Januari bergelayut lama

Menyela suara rintik
Akhirnya lewat mulutmu manis
Kesangsian melibas telinga mereka
Jika diam ini sia sia

Seperti hujaman runcing air mata langit
Memukul mukul seng dan pohon kering
Di arus angin yang kuat

Inilah setali mata uang
Pantulan dalam cermin yang itu jugaamuk ini adalah bahasanya
sudah terlulis dalam mata

Siapa menghentikan dia
Yang bergerak dalam wajah yang dikenal
Menatap dengan penuh kasih sayang
Wajah kita yang tersedot waktunya



Tanjung, 9 Januari 2008

Tidur Yang Terjaga

Semalaman tidur berselimut gelap
Dia selalu saja terjaga
Begitu tekun
Memperhatikan nafasmu
Menghembus ke semesta angin
Lalu memilih yang bening untuk dikembalikan

Manisnya wajahmu gadis
Dia buat dadamu turun naik
Teratur yang sempurna
Engkau masih pulas saat matahari menjelang pagi
Bersama kuncup bunga berembun dan lainnya
Matamu pun terbuka

Engkau tersenyum
Pagi dimulai
Kicau satwa sahut bersahutan
Sambil melangkah ke kamar mandi
Terbayang lagi mimpimu
Bertemu kekasih

Kutulis puisi ini dengan air mata

Tanjung, 8 Januari 2008

Mata Yang Berair

Kerling matamu mengingatkan bulan sabit
Yang ditanamnya di langit
Di sisi garis putih melengkung
Warna malam begitu penuh
Seperti gadis terbungkus kain hitam
Engkau tebarkan kegaiban

Kubaca jumlah kerlap kerlip sinar lainnya
Selalu saja berakhir tidak tuntas
Jumlah hitungan ini tidak sebanding cintanya
Dalam waktu panjang menyulam bintang
tidak ada yang terlepas

Hanya saja yang jatuh adalah air matamu
membening putih berkilauan
memang tidak semuanya meleleh
untuk lain kali dikuras

Begitulah bulan sabit yang amat indah
Menghujam matamu.


Tanjung, 6 Januari 2008

31 Desember 2008

Puisi
Ahmad Surkati AR

Antara Mawar dan Melati

Mungkin umur itu adalah hidup kita
Yang tumbuh tak pernah terawat
Mengingat tubuh ini tiba tiba membesar

Tidak seperti bunga hiasan halaman rumah
Ada mawar, melati dan kamboja yang mengingatkan
Masa bercinta remaja
Taburan pusaran
Dan tanaman rindang tempat berteduh penziarah

Tiap hari ada saja yang merawatnya
Sewaktu waktu dipungut
Dipersembahkan kepada sang pencinta

Betapa betahnya dia menunggu
Saat kunjungan datang untuk berpisah
Melati yang jatuh
Terserak diantara mawar yang ditangisi

Tanjung, 4 Januari 2008




Puisi Ahmad Surkati AR

Usai Kejadian

Sesudah hujan
jalan raya terbentang di sisi rumahmu itu
Akan mengering dengan sendirinya
Justru inilah yang amat berkesan
mencium bau tanah
sambil menyaksikan gadis lain bergegas pulang

Mungkin tidak satu gadis
Engkaupun bersama lainnya memenuhi jalan itu
Langkah langkah cepat susul menyusul
Menghitung jarak ke pintu rumah
Di dalamnya kau pastikan terhidang aroma kasur
Nikmatnya memanaskan diri dalam selimut

Di luar sana
Ujung matamu melirik ke bingkai jendela
Membuang desahan
lorong hidup lain
jalan berliku yang kadang kering kadang basah
oleh matahari yang berselimut awan

Tanjung, 4 Januari 2008

Puisi Ahmad Surkati AR

Hidup

Di persimpangan jalan yang berdebu
Keraguan menyeruak arah tujuan
Ke mana harus dilanjutkan musafir ini
Sementara telunjukmu sejak lalu terarah ke kiblat

Matahari di atas sana telah lebih dulu sampai
Di ambang bibir laut kita menduga dia beristirahat
Padahal cahayanya selalu saja menemani harapan
Seperti keyakinan esok hidup terurai kembali

Hanya karena buta serupa pekat malam
Matamu kemudian tidak jalang di baliknya
Geliat hidup berwarna warni
Mereka senantiasa bertawaf
Mengelilinginya.

Tanjung, 5 Januari 2008
TEROMPET
Cerpen Ahmad Surkati AR

Orang memberi nama alat itu dengan kata ‘terompet’. Mungkin suaranya pet pet pet, sehabis dijejali angin yang tercekek. Melihat pipi gembung milik anak ingusan di tengah jalan berdebu, Undal meyakini alat itu ditiup karena satu sebab. Matanya menatap tajam anak dekil berbaju rombeng tengah asyik mengulum ujung dasar benda yang terbuat dari kertas itu. Dia berkali kali meniup keras, tapi suara yang keluar selalu saja kalah nyaring beradu dengan berbagai terompet milik anak lainnya yang ramai lalu lalang naik mobil, atau motor, juga ada diantaranya jalan kaki. Undal tersenyum, dia yakin jika anak itu menikmati rasa asin kertas yang sudah berlumuran air ludahnya sendiri, atau mungkin ludah orang sebelumnya.
“Mengapa kamu meniup kertas ini?” Kata Undal seraya sok akrab menjamah terompet yang kondisi bentuknya tidak rapi lagi.
“Aku menemukannya terinjak di jalan ini.” Mata anak itu memperhatikan sesaat sosok yang menyapanya, kemudian melempar pandangan ke jalan yang kini bertambah ramai.
“Dari tadi aku memperhatikanmu, mengapa kamu mau meniup terompet yang bunyinya tidak nyaring ini. Kau dengar punya mereka, tidakkah suaranya memekakkan telinga? Tangannya menunjuk ke sebuah mobil, di dalamnya dua gadis remaja ceria bermain terompet yang berhias warna warni. Terompet itu ditiup dan diarahkan kepada orang yang dilewati. Seperti memberi tahu jika malam ini adalah malam bermain terompet.
“Aku sebenarnya ingin seperti mereka, naik mobil, meniup terompet yang bagus dan suaranya nyaring. Terompet ini tidak seperti punya mereka. “ Katanya lesu seraya memandangi nanar geliat malam yang tidak biasanya.
“Baiklah, aku paham. Kamu meniup benda ini karena ikut ikutan mereka. Jika mereka tidak datang dengan keadaan membawa terompet, pastilah kamu tidak akan keluar dari tempatmu. Dari persembunyianmu.” Undal menghela nafas panjang. Diam. Menarik lagi lebih dalam, seakan ingin menyimpan udara lebih banyak di dada, persedian menghadapi kejadian selanjutnya.
“Malam apa ini?” Tanya Undal kebingungan, Ada rasa gugup menjalar di dadanya. Dia belum mendapatkan jawaban memuaskan dari anak tadi. Bergelayut tanya pada gerak memanjang manusia yang kompak membawa terompet, bertanda kejadian itu tidak biasanya. Tidak ditemukan pada malam sebelumnya.
“Nak, kamu lebih baik pergi dan bersembunyi. Menurut firasatku, akan terjadi sesuatu yang boleh jadi membahayakan tubuhmu. Cepat naik!.” Pinta Undal. Di matanya, arus manusia yang membanjir kini telah memenuhi jalan raya. Dia takut jika anak kecil itu tenggelam dalam gelombang manusia lalu terinjak-injak.
Undal kemudian berlalu dari anak yang tidak mau ambil pusing dengan ketakutannya. Dia berjalan tergesa, mengikuti arus manusia yang menuju arah Utara kota. Tempat itu sepertinya menjadi tujuan orang orang yang sibuk di malam ini. Tempat berkumpul dengan tujuan yang barang kali sama. Tapi apa mungkin mereka disatukan oleh keinginan. Apa yang membuat orang orang menjadi bergerak menuju satu tempat. Berbagai tanya itu memicu langkah Undal menuju tempat yang sama. Dia ingin tahu apa yang terjadi di sana.
Sambil berjalan, dia berusaha memahami berbagai kejadian yang terasa janggal di matanya. Menurutnya, pasti ada kekuatan besar dari tempat itu yang bekerja menyedot orang orang. Bahkan yang aneh, Undal melihat wajah wajah itu bersuka cita, gembira. Tersenyum dan tertawa. Undal memperhatikan sepasang anak muda yang naik motor laki. Gadis mendekap erat pasangannya. Duduknya agak nakal. Motor berjalan pelan, sejajar dengan langkah Undal.
“ Hai, kawan. Nih, ambil terompet. Tiup keras keras. Kami sudah meniupnya.” Kata gadis seraya melempar benda itu ke Undal. Undal tergagap. Dia tidak siap menerima perintah meniup terompet. Dia belum paham untuk apa meniup terompet. Ada jengkel merasuk hatinya, kenapa gadis itu menyuruh dia yang meniup terompet. Apakah karena alasan malas, lalu memaksa orang lain yang mengerjakannya. Walaupun demikian, Undal tidak tega membiarkan benda itu jatuh dan terinjak. Dengan tangkas tangannya menangkap terompet itu.
“Kita berbagi gembira dan nikmat malam ini.” Tandasnya dihiasi ketawa cekakak cekekek sambil melaju. Tak lupa melambaikan tangan.
“Daahh…..” Undal masih diliputi kebingungan. Sempat matanya menangkap begaimana erat kedua tubuh itu berdempetan di atas motor. Asap mengepul. Debu berterbangan. Suara hiruk pikuk membahana ke langit. Tidak jelas lagi, apakah gelap malam ini semakin hitam karena larut malam atau karena pencemaran.
Tidak lama berselang, setelah pasangan muda tadi hilang dibalik gerombolan orang orang, Kuping Undal dikejutkan suara pet…..pet….pet. Beberapa lelaki di atas pick up berlomba meniup terompet sambil mencari sasaran untuk diberi kejutan. Namun ada yang tidak dapat diterima Undal, mereka seakan bangga dengan ulah yang cenderung mengganggu itu. Ingin dia membalas dengan meniup terompet di tangannya, tapi urung karena mobil itu tidak terkejar oleh kakinya.
“Bunguuul…..!’ Kata itulah yang akhirnya terucap. Terlintas juga keinginan melempar mereka dengan terompet yang ada di tangan kanannya. Memang lumayan berat karena terbuat dari plastik. Bisa membuat bincul kepala. Tapi karena merasa sayang, akhirnya dia memilih menyumpah.
Undal menimang nimang benda itu. Terbayang wajah anak ingusan tadi. Batinnya, anak itu pasti senang jika mendapatkan terompet yang nyaring bunyinya, seperti terompet yang ada di tangannya. Dia memandangi sekali lagi terompet itu. Warnanya merah . Warna yang menarik untuk anak kecil, juga mungkin gadis tadi. Undal memperhatikan dengan seksama, ada basah di ujungnya. Pasti sisa air liur si gadis. Tapi Undal tidak berani mencium baunya, apalagi memasukannnya ke mulut, kemudian menghembuskan angin melalui jalan yang sengaja dibuat kecil. Mungkin karena jalan angin dibuat kecil, maka suara yang keluarpun terdengar nyaring dan terhimpit. Ya, seperti barangkali suara kentotlah.
“Untung saja aku belum meniupnya.” Sepintas ada senyum mengambang di sudut bibirnya. Dalam otak Undal, muncul pemahaman kalau orang orang yang membuyikan terompet itu seperti akan membuang hajat. Namun sebelumnya harus dilalui oleh aksi buang angin busuk.
“ He he.. Apa benar kesimpulanku ini.” Gumam Undal gamang, bibirnya masih digelayuti senyum, tapi senyum yang kini membias garis kecut. Malam merangkak. Bagai bayi tua. Kehadirannya begitu saja. Seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kecuali geliat yang tercipta. Sesuatu yang bertingkah. Sesekali Undal menatap kelam malam, dia mencari bintang yang entah di mana. Bulan pun gaib. Malam yang menyimpan misteri.
Bukk! Tiba tiba tubuhnya menabrak sesuatu. Tubuh Undal hampir oleng. Sesaat dia memperhatikan benda yang bersentuhan dengannya. Oh, ternyata dia bertabrakan dengan tubuh seorang wanita yang kini berusaha kuat untuk bangkit.
“Saudara buta ya. Masa tidak melihat tubuh sebesar ini.” Kata Wanita terbilang manis itu setelah berhasil berdiri.. Dia kemudian membenahi dirinya, mematutkan pakaian yang dikenakannya. Mungkin dia mengira diantara pakaian yang menutupi tubuhnya ada yang tersibak. Undal serius memperhatikan wanita di depannya. Dia ingin menolong, tapi tidak tahu bagaimana caranya.
“Tuhan menciptakan mata untuk melihat ke depan. Makanya mata itu letaknya di wajah bukan di belakang kepala, tahu?” Tukasnya sewot sambil sekali lagi mengibas ngibaskan baju. Maksudnya mungkin menghilangkan debu. Undal memperhatikan dengan seksama wajah wanita yang berparas cantik.
“Apa liat liat?” Hardiknya. Undal terkejut.
“ Saudara mau meyakinkan mata, jika yang saudara tabrak tadi adalah gadis cacat. Saya katakan, Tubuh ini memang cacat. Nih, lihat mata ini.” Katanya seraya menyibak rambut dan mendorong wajahnya ke muka. Undal menemukan mata itu memang cacat, seperti ada sesutau yang menutupi bola matannya. Kosong.
“Maaf. Tadi betul betul tidak sengaja. Khilaf. Fokus mataku memang tadi tidak di depan. Ada yang menarik di atas sana he he…” Kata Undal jujur. Berusaha akrab. Dia bertambah yakin jika gadis ini buta, setelah dia melihat sebatang tongkat di tangan kanannya.
“Tidak masalah. Saya maafkan saudara. Sudah biasa ditabrak dan menabrak. Tapi mungkin lebih banyak menabrak. Maafkan saya bila tadi sempat marah.” Gadis itu kemudian menghadap kembali arah jalur orang orang pergi. Ke satu tempat, di mana orang orang seperti tersedot.
“Anda juga mau mengikuti orang orang itu?” Tanya Undal berusaha menyusul. Gadis itu diam sebentar. Kemudian berjalan beriringan dengan langkah Undal.
“Saudara pahamkan jika latarbelakang hidup kita berbeda. Saya belum mengenal saudara, begitu juga gemuruh terompet ini sebenarnya tidak menarik. Mungkin yang membuat saya tertarik adalah apa yang disuarakan hati ini, bahwa akan terjadi sesuatu. Kejadian itulah yang menarik aku melangkah. Aku berusaha mengetahuinya dengan caraku sendiri.” Jelas gadis itu seraya menunggu komentar Undal. Dia memiringkan kepalanya, seperti ingin mendengar suara Undal.
“Aku juga menduga akan terjadi sesuatu. Tapi yang tidak kumengerti mengapa orang orang berirama, kompak, dan seperti ada yang memimpin berjalan ke arah sana. Dan yang aneh mengapa mereka meniup terompet.” Berkata seperti itu, Undal memandang terompet yang kini berada di tangan kiri. Dia mengusup ujung terompet, pemberian sepasang pemuda tadi. Melintas lagi keinginan untuk mengetahui bunyinya, tapi Undal takut meniupnya.
“Jangan bingung! Terompet itu mengeluarkan bunyi. Seperti kita berbicara, menyampaikan maksud melalui suara mulut, mengirim pesan dengan isyarat. Terompet hanyalah alat. Dia bisa menjadi bagian dari musik. Dia juga bisa menjadi tradisi.” Undal merusaha memahami arah bicara gadis yang mengenakan baju hitam.
“Fenomena ini tidak perlu menguras otak. Pikirkan saja mengapa kamu berbicara. Mulutmu itu adalah terompet.” Sambungnya lagi, membuat Undal semakin bernafsu meniup terompet di tangannya.
“Tahukah kamu jika aku sekarang ini memegang sebuah terompet.” Undal menawarkan hal lain. Maksudnya meski Undal memiliki terompet seperti kebanyakan orang orang namun dia berbeda. Tidak meniupnya.
“Mengapa saudara tidak meniupnya? Tidakkah terompet itu untuk ditiup.” Tanya gadis.
“ Aku memang tergoda untuk membunyikannya. Tapi aku tidak akan melakukannya, karena aku belum punya alasan untuk meniupnya. Nanti terompet ini akan kukasihkan saja kepada seorang anak yang tadi berjumpa denganku. Kurasa dia punya alasan meniup terompet. Ya setidaknya, dia ingin mendengar bunyi terompet yang nyaring. Tidak seperti miliknya” Undal melempar pandangan ke orang orang yang semakin memadati jalanan. Dia tidak yakin jika anak ingusan itu sudah bersembunyi, seperti yang dimintanya. Bagaimana mungkin dia mau bersembunyi, sementara orang orang keluar dari rumah rumah yang menyembunyikan mereka selama ini. Undal diserang gundah.
“Maaf, apakah kamu mengetahui alasan khusus mereka meniup terompet? Undal bertambah panasaran.
“Baiklah, tapi ini sekedar pendapatku saja. Jangan saudara hiraukan benar tidaknya. Saya hanya bisa menduga. Saudara harus ingat, pendapatku ini berasal dari kesimpulan yang terbatas. Dan yang pasti, jangan saudara lupakan jika saya memiliki kekurangan. Mataku buta. Kata orang, mata buta tidak bisa melihat. Ya, mataku ini memang tidak bisa melihat. Namun….saudara boleh percaya boleh tidak, jika saya bisa memahami sepenuhnya alasan mereka meniup terompet.”
“Nah, jawaban inilah yang kutunggu tunggu. Katakan cepat!” Undal tidak sabar. Tidak terasa mereka berdua sudah jauh melibatkan diri dalam arus manusia yang bagaikan robot berjalan tertatih tatih ke arah lapangan besar di ibu kota.
“Mereka akan mendemo penguasa langit!” Tandasnya dengan suara dingin.
“Apa iya?” Undal dibuatnya terperanjat. Gadis itu kemudian memberitahu jika telinganya mampu menguak gemuruh dada si peniup terompet, sebelum berubah menjadi angin yang terhimpit di ujung moncong terompet.
“Bahkan menurut pendengaranku, bunyi bunyi terompet saat ini kebanyakan memaksa Tuhan agar tetap menggelar hidup selanjutnya. Meskipun tetap dalam kesengsaraan, peperangan, musibah, dan mungkin juga kebahagian yang semu.” Gadis buta ini kemudian merinci jika terompet kebanyakan dibunyikan dalam keterpaksaan. Terpaksa karena mereka tidak mengerti untuk apa meniup terompet.
“Boleh saja mataku buta, tapi hatiku tidak akan kubuat buta.” Usai berkata itu, gadis yang belum diketahui namanya itu kemudian larut dalam gelombang manusia. Undal kehilangan jejak.
Susah payah Undal mencari gadis buta tadi. Terlebih ketika waktunya sudah tiba. Saat orang orang seperti dikomando membunyikan terompet dan membakar kertas yang berbunyi ledakan terang benderang di atas langit.
“Mereka betul betul melakukannya.” Ucap Undal lirih ditingkahi mulutnya juga meniup terompet.
“Pet… pet…. pet….” Undal kecewa. Bunyinya tidak nyaring.@ Selamat Tahun Baru 2009!

30 Desember 2008

Tahun Baru Lagi

Ternyata berlalu lagi satu tahun. Kita sudah memasuki hari ke 2 dari tahun 1430 H. Karena perputaran masa maka penanggalan moment pergantian tahun Masehi dan Hijriyah berdekatan. Sepertinya di Indonesia, biasanya orang lebih banyak mempersiapkan pergantian tahun Masehi, dari pada Hijriyah, karenanya wajar jika gaung Tahun Islam akhirnya sepi. Bahkan mungkin ada yang tidak mengetahui jika tahun Islam sudah berubah. Kenapa orang orang sibuk menghadapi satu hari yang dikata awal tahun? Ya karena ada kesepakatan bahwa hari itu orang orang akan mengalami perubahan, setidaknya tanggal. Kalau waktunya, ya seperti biasa, bahwa dia tidak pernah kembali, dia selalu berubah, bahkan kita tidak bisa menahannya meski satu detik. Banyak yang bisa dibuat manusia pada satu hari, bahkan Tuhan dalam hitungan menit dapat menghancurkan kehidupan ini. Namun karena bebal, maka manusia hanya bisa mengulang ngulang peristiwa, seperti cerita Israel menyerang Palestina, sudah lama cerita itu, dan di akhir tahun Masehi dan Awal tahun Hijriyah kali ini mereka ingin mengatakan kepada dunia kami tidak beranjak dari sejarah lama, berperang dan menjajah! Apa yang dapat dibuat oleh manusia jika dia menghargai kehidupan dan usia? Tidak lain adalah beriman, beramal shaleh seraya menebarkan kebenaran di muka bumi ini. Allah adalah memilik kehidupan ini. Selamat menjalani hidup dalam tantangan yang semakin berat!

21 Desember 2008

KATA

Siapa yang membuat kata
di lautan bahasa
Siapa yang merangkai kalimat
untuk dibaca

Kita menulis
Kehabisan kata
Tenggelam dalam KalamNya

11 April 2008

Dakwah




Rasul meminta kepada umatnya untuk menyampaikan satu ayat
meski satu ayat jika kebenaran tentu sangat berarti bagi hidup
saat kebenaran menjadi jarang dikomunikasikan

Ketika kita menjadi pelaku dakwah
maka berkata benar adalah hidup kita yang menjadi uswah oleh siapa saja
meski untuk sendiri tentu mahal harganya
saat dia menjadi gaya hidup

mungkin orang tidak memperdulikan suara tuhan, rasul, dan nurani
ketika mereka telah menukarnya dengan harga yang murah
dunia dengan segala pernak perniknya
telah terbeli oleh hawanafsu

03 Februari 2008

Anak Shalehah


Dia menitip ciptaanNya kepada kami
melalui cinta yang disemai dalam sembilan masa
rahim yang kasih
sebelumnya melalui pintu sedekah
memberi dan menerima
amanah pengikat hidup

Anakku, bagai ditiup badanmu membesar
tapi pelan dalam kesempurnaan hingga engkau merasa
mendanda sejarah yang juga bergulir seperti hari
memintal waktu menjadi tahun
umurmu genap sembilan
masya Allah, mulutmu pandai membaca aksara
kitabullah ajaran hidup

Dari ketuan kami
tubuhmu menyusul jejak manusia dewasa
sujud di bumiNya
membasuh tanah dengan cucuran air mata
Kiranya kelak tangisan itu merembes ke pusaran ibu bapakmu
menjadi melati di atasnya
bergoyang dengan tasbih hijau daun.

15 Januari 2008

Nyanyian Ibadah Rindu


Berbondong bondong kelalawar
menerobos langit masa kecil
seingatku mereka adalah nyanyian
menjelang malam di saat azan
meliyuk liyuk di hati
menggiring kita menyembahnya

tetapi kini pengeras suara
beradu hingar bingar keramian jalan
beriring iringan kendaraan
melesat di tikungan langit masa tua
seingatku mereka adalah hiruk pikuk
kegelisahan menanti siang
ibadah kehilangan rindu
saat dipersembahkan alam

Yogya, Mei 1998

12 Januari 2008

Renungan Tahun Baru


Umur adalah hidup kita. Bagaimana kita bisa mengingkarinya karena dia melekat dalam tubuh. Orang banyak yang tidak memahami untuk apa dia diberi oleh Allah umur panjang. Karena itu lalu mereka melaluinya dengan biasa biasa saja. Kalau toh ada peringatan ulang tahun, maka itu lebih banyak karena gengsi. Bukan perenungan atau muhasabah. Setali mata uang dengan malam tahun baru yang harus dilalui dengan membuang duit, bahkan mungkin kehormatan atas dalih demi cinta. Tahun baru boleh boleh saja diperingati karena dia bagian dari hidup ini. Tapi bukan kemudian melupakan nilai yang jauh lebih berharga. Umur tidak banyak berarti jika dia sebatas kesempatan. Tapi waktu akan banyak berarti jika kesempatan itu membuat seseorang banyak melakukan amal shaleh atau kebaikan yang bermanfaat. Tahun adalah kelipatan bulan, minggu hari, jam, menit dan detik. Dia akan berulang ulang. Kita hidup senantiasa dikelilingi waktu. Sampai kapan? Hanya Allah yang tahu. Karena kita dikelilingi waktu, maka waktu yang tepat untuk menghentak kesadaran kita adalah detik. Detik inilah yang dapat memutuskan leher kita. Orang Arab bilang, waktu itu bagaikan pedang. Dengan detik kita bisa berbuat yang akhirnya membutuhkan kelipatan waktu selanjutkan. Maka siapa yang dapat bertahan melakukan kebaikan dalam rentang panjang, maka dialah yang beruntung. Maunya sepanjang umur kita berkarya kebaikan. Inilah harga termahal seseorang. 1428 H sudah berlalu, saat ini kita berada di tahun 1429 H. Masa lalu adalah kenangan, maka yang patut dikenang adalah pahala yang menumpuk karena olah tenaga dan pikir dalam amal shaleh. Masa depan adalah kuburan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Jika perlu hati mantap dengan harapan masuk syurga. Artinya sudah jelas, muslim akan selalu optimis dalam hidup sebab visinya jauh ke depan, yakni menggapai syurga.

03 Januari 2008

Manusia Makhluk Dakwah


Manusia adalah makhluk dakwah, mengingat dia terlahir berkecenderungan mencari kebenaran. Hal ini dapat dibuktikan ketika lingkungannya memberikan batasan batasan nilai; benar dan salah. Benar dan salah ini kemudian menjadi ilmu baginya dalam bersikap. Maka kebenaran yang bagaimana yang harus disebarkan? Kebenaran yang tentunya bersifat universal. Dari mana sumbernya, tentu dari pemilik hidup ini. Dialah Al Hak. Karena manusia adalah ciptaanNya, sudah barang tentu kebenaran yang datang dari Allah tidak terbantahkan, dan manusia adalah pengemban amanah untuk menyebarkan kebenaran itu dalam kehidupan. Realitanya adalah manusia sebagai khalifatullah. Untuk menerapkan konsep ini, maka manusia adalah insan dakwah atau makhluk dakwah. Dia berkewajiban menyebarkan dakwah walau satu ayat. Satu kebenaran yang mampu disampaikan begitu amat berharga, ketika kebenaran itu dibuat samar samar oleh Syaitan dan sekutunya. Diantaranya mampu memilih syurga dari pada neraka, berdamai dengan membuang permusuhan, dan berkata benar.

31 Desember 2007

Catatan Akhit Tahun 2007

Kehilangan tidak berarti
kemudian termangu menatapi bayang
diri bercermin matahari
keperakannya itu beringsut seperti tali jangkar
yang ditarik malas

aneka kapal berwarna warni tetap saja berlabuh
di atas air berwarna senja
orang orang selalu mengukir jalan

Hari ini tidak seperti hari sebelumnya,
katamu mantap sambil melangkah tegap
Engkau bergegas menyelinap
di balik lipatan hari

Di luar sana
terompet bersahut sahutan
bukan takbir
tapi tanda tiba kapal

30 Desember 2007

Bersujud

Kepala kita tegak
menatap langit
dan matahari itu di matamu
tidak seperti dalam firmanNya

senja memulangkan
sekawanan burung
di batas siang
kumandang zikir menyentak malam

di mana sujud harus kau rendahkan
ketika hati tidak basah
kecuali nyali berlumur sajadah